fbpx

Omicron Masuk Indonesia, Bagaimana Cara Menghitung Tingkat Penularannya?

Pandemi Covid-19 akan berulang tahun untuk kedua kalinya pada bulan Desember ini. Tak terasa, sudah hampir dua tahun kita menikmati hidup dalam jarak jauh. Sekolah online, kuliah online, kerja online, sampai shopping online sudah menjadi kebiasaan, sampai-sampai sebagian besar dari kita enggan meninggalkannya. Hayo, ngaku saja kalian!

Ngomong-ngomong tentang Covid-19, virus ini sudah memiliki banyak keturunan, loh. Mulai dari alfa, beta, gamma, delta, sampai dengan yang terbaru omikron (in English: โ€œomicronโ€). Semuanya dinamakan dengan alfabet Yunani. Bayangkan saudara, dari alfa (ฮฑ) sampai dengan omikron (ฮฟ), itu sudah berapa banyak abjad? Sebentar lagi pasti akan menyusul pi (ฯ€), rho (ฯ), dan sigma (ฯƒ). Huruf-huruf yang pasti tak asing lagi bagi yang menggeluti bidang matematika, statistika, atau fisika.

Seberapa menyebar sih varian-varian itu? Apa bedanya dengan virus Corona versi standar yang kita kenal selama ini? Nah, untuk melihat perbedaan varian turunan tersebut dengan virus versi original, kita dapat menganalisis melalui angka reproduksi dengan yang namanya Basic reproduction number (R0). Menurut sumber yang saya dapatkan dari publikasi Bappenas (2021), Basic reproduction number (R0) merupakan parameter yang mengindikasikan penularan saat belum ada intervensi yakni saat awal-awal pandemi. Kata WHO sih pas awal-awal Covid-19 datang (Januari 2020), nilainya berkisar antara 1,5 hingga 2,5. Artinya, untuk 1 orang yang terkonfirmasi Covid-19 akan menularkan kepada 1,5 s.d. 2,5 orang lainnya.

Selain mengenal Basic reproduction number (R0), untuk menghitung penularan suatu penyakit juga dikenal istilah Effective reproduction number (Rt) yakni indikator yang digunakan untuk mengukur penularan penyakit setelah adanya intervensi. Akan tetapi, indikator tersebut membutuhkan input data yang mendetail yang mana jarang tersedia karena pencatatan medis yang kurang baik. Baik R0 maupun Rt sering kali dianggap ukuran dasar pada penyakit menular. Selama reproduction number tersebut bernilai lebih dari 1, maka penularan virus dianggap masih menyebar dan belum terkontrol.

Adapun formulanya untuk menurut Arroyo-Marioli et al. (2021) adalah sebagai berikut:

\[ R_t=1+{1\overฮณ} ร— gr(I_i ) =1+{1\overฮณ} ร— [{I_t-I_{t-1} \over I_{t-1}}] \]

Dengan It adalah jumlah orang terinfeksi pada hari ke-t, dan ฮณ adalah rata-rata lama infeksi (lama waktu dari terinfeksi hingga sembuh).

Lalu, bagaimana reproduction number Covid-19 saat varian delta melanda Indonesia pada pertengahan tahun 2021 lalu? Bagaimana perbandingannya dengan negara-negara lainnya? Apakah varian Omikron lebih menular? Berikut merupakan perhitungan angka reproduksi di berbagai negara yang dilakukan Our World in Data. Data yang digunakan untuk perhitungan dihimpun dari Center for System Science and Engineering (CSSE) at John Hopkins University (JHU). Pada grafik garis yang ditampilkan berikut, saya hanya membandingkan tiga negara saja agar tidak bingung dalam menginterpretasikan yakni United States (Amerika Serikat), United Kingdom (Inggris Raya), serta negara kita tercinta, Indonesia. Referensi waktu yang digunakan adalah antara April 2021 hingga Desember 2021.

Sumber: Our World in Data

Pada grafik tersebut, terlihat pola serupa antara Indonesia, Amerika Serikat, dan Inggris yakni terjadi kenaikan angka reproduksi saat dunia sedang digempur varian delta asal India yang berlangsung April hingga Agustus 2021. Setelah melewati masa-masa tersebut, oleh karena berbagai kebijakan seperti pembatasan hingga vaksinasi, angka reproduksi berhasil kembali turun secara perlahan.

Indonesia sendiri berhasil mencapai angka reproduksi kurang dari satu sejak akhir Juli 2021 di Indonesia dan bertahan dalam kurun waktu yang lama. Angka reproduksi terendah di Indonesia berhasil tercapai pada pertengahan September 2021 dengan nilai 0.6. Hal tersebut menunjukkan kasus aktif di Indonesia telah berkurang drastis penambahannya semenjak gelombang varian delta melanda. Sementara itu, penurunan angka reproduksi yang dialami oleh Amerika dan Inggris tidak bertahan lama, namun kedua negara maju tersebut berhasil mempertahankan angka reproduksi Covid-19 pada nilai sekitar satu.

Selain adanya pola yang serupa tersebut, puncak kurva juga terlihat berbeda-beda antar negara. Pada grafik tersebut, Indonesia dan Inggris terlihat memiliki pola kenaikan yang serupa yakni pada Juni s.d. Juli 2021 dengan puncak angka reproduksi sekitar 1.5, artinya dari 2 orang yang terinfeksi akan menularkan kepada 3 orang lainnya yang belum terinfeksi. Sementara itu, Amerika Serikat memiliki pola kenaikan yang terlambat dari Indonesia dan Inggris. Amerika Serikat tercatat mengalami kenaikan angka reproduksi yang disebabkan oleh varian delta baru pada Juli s.d. Agustus 2021 dengan puncak angka reproduksi serupa Indonesia dan Inggris yakni sekitar 1.5.

Setelah anomali yang dirasakan oleh karena varian delta, Inggris kembali mengalami kenaikan angka reproduksi pada Agustus 2021 hingga saat ini. Kenaikan kedua tersebut juga terjadi di Amerika serikat dan Indonesia pada bulan ini, Desember 2021. Meskipun belum menunjukkan penularan yang sangat tinggi seperti saat varian delta melanda dunia, angka reproduksi yang menunjukkan nilai di atas satu dapat mengindikasikan di kemudian hari akan terjadi pola kenaikan kasus yang signifikan seperti halnya saat varian delta melanda. So, tetap jaga kesehatan dan tetap mematuhi protokol kesehatan, ya guys!


Tonton juga video pilihan dari kami berikut ini


Bagikan ke teman-teman Anda

Contact Us

How to whitelist website on AdBlocker?

How to whitelist website on AdBlocker?

  1. 1 Click on the AdBlock Plus icon on the top right corner of your browser
  2. 2 Click on "Enabled on this site" from the AdBlock Plus option
  3. 3 Refresh the page and start browsing the site
error: Content is protected !!
Up